Written By Juwita on Sunday, April 8, 2012 | 12:04 AM
Kabupaten Pakpak Bharat menyimpan banyak potensi wisata yang cukup menarik dan mempesona dengan berbagai keindahan alam maupun nilai sejarah yang memiliki nilai jual tinggi kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kepala Dinas Kebudayaan, Parawisata, Perhubungan, Pertamanan dan Kebersihan (Disbudparhubmansih) Pakpak Bharat, Mester Padang SPd kepada wartawan saat mengunjungi objek wisata air terjun Lae Mbilulu baru baru ini, mengatakan, sejumlah objek wisata yang dapat dinikmatasi wisatawan diantaranya, air terjun Lae Une di Desa Kecupak I Kecamatan PGGS, air terjun Lae Mbilulu di Desa Paronggil Kecamatan Tinada, Eluh bru Tinambunen dan Delleng Simpon di desa Ulumerah Kecamatan STU Julu, objek wisata bahari, dan objek wisata sejarah dengan menelusuri kisah perjalanan maupun tempat persinggahan Sisingamangaraja ke XII dan Makam Mpu Bada sepanjang 12 meter.
Air Terjun Lae Une
Air Terjun Lae Simbilulu
Eluh Bru Tnambunen
Delleng Simpon
Dengan terkelolanya objek wisata ini, dipastikan mampu mendongkrak jumlah pendapatan asli daerah (PAD) sebagaimana dilakukan Provinsi Bali, Kabupaten Karo dan Simalungun dengan Danau Toba-nya.
Dikatakannya, kendala maju mundurnya parawisata Pakpak Bharat, minimnya sarana dan prasarana yang memadai untuk akses menuju lokasi wisata dan belum terpublikasinya objek dimaksud.
“Mudah-mudahan untuk tiga tahun ke depan, seluruh objek wisata di Pakpak Bharat dapat dikelola untuk menambah PAD kita,” sebut Mester. (mag-14)
Written By Juwita on Sunday, April 3, 2011 | 4:24 AM
Penelitian Institut Teknologi Bandung atas sampel pasir sungai dan batu gunung Delleng Simpon di perbatasan Kabupaten Pakpak Bharat dan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, menunjukkan kandung emas di kawasan itu sangat sedikit.
"Hasil penelitian yang kami terima dari laboratorium ITB menyatakan kandungan emas di area perbatasan itu sangat sedikit atau hanya 0,007 ppm saja," ujar Kepala Kantor Pertambangan dan Energi Kabupaten Humbang Hasundutan Minrod Sigalingging di Doloksanggul, Minggu, 3 April 2011.
Sebelumnya, berdasarkan analisis megaskopis (penelitian batu yang dilakukan terhadap sampel genggaman atau singkapan dengan menggunakan bantuan lensa pembesar) pihaknya juga yakin tidak ada butiran emas di lokasi itu.
"Dengan analisis kandungan emas hanya 0,007 ppm, kemungkinan butiran emas di daerah itu hampir tidak ada. Sebab, hanya bisa dilihat melalui kaca pembesar, itu pun belum tentu terlihat," katanya.
Isu tentang dugaan adanya kandungan emas di kawasan hutan di perbatasan kedua daerah sebelumnya cukup menarik perhatian. Dengan hasil penelitian laboratorium ITB, warga di kedua daerah mengaku lega karena telah mendapatkan informasi resmi.
"Memang kami tidak begitu yakin ada emas di daerah ini. Hasil laborotorium ITB mungkin bisa menghentikan isu yang tersebar luas dan terus berkembang selama ini," kata Sihombing, seorang warga dari Kecamatan Parlilitan.(Sumber: eksposnews.com: 03/04/11)
Written By Juwita on Thursday, October 21, 2010 | 11:37 AM
Pembaca pernah ke Taman Mini Indonesia Indah..? Atau mau berkunjung kesana..? Sempatkan menikmati kekayaan budaya nusantara seperti melihat jejeran rumah adat nusantara dari sabang sampai merauke.
Hari Minggu, 17 Oktober 2010 saya berkesampatan ke TMII sekedar untuk wisata membuang kepenatan. Saya kagum atas penataan yang menarik dan unik, taman yang dari namanya katanya "mini" ternyata menyimpan "kemegahan" terutama dengan mempertontonkan budaya Indonesia.
Saat kunjungan pertama ini ke TMII, sebagai putra Sumatera Utara, tujuan utama saya adalah mengunjungi "rumah saya" di paviliun Sumatera Utara". Alangkah terkejut bercampur sedih saat tiba disana. Bagaimana tidak, dari berbagai paviliun rumah adat mewakili Sumatera Utara, yang paling "menyedihkan" adalah Rumah Adat Pakpak sebagai rumah adat nenek moyangku.
Perasaan terkejut, sedih bercampur kasihan pada diri sendiri melihat keadaan rumah adat Pakpak ini seperti tak bertuan "miskin" inovasi. Sungguh kontras dengan rumah adat dari daerah lain yang ditata rapi dan menarik. Seperti dari Nias, Simalungun, Toba dan Melayu (Deli), mereka menunjukkan kreatifitas seperti penjaga stand yang siap sedia memberikan informasi budaya dan semua tentang daerah/sukunya, sekaligus menawarkan berbagai cendramata hasil kekayaan budaya daerahnya sebagai kenang-kenagan. Juga dengan mempertontonkan kesenian daerah berupa tari-tarian dan karya seni lainnya.
Namun untuk stand Pakpak, yang ada hanya bagunan rumah adat tak bertuan. Saat itu tidak ada penjaga stand. Rumah adat Pakpak kebanggaanku tutup terkunci rapat. Keadaannya memang tidak seperti yang saya bayangkan. Kolong rumah menjadi gudang penyimpanan tiang-tiang bekas diselimuti debu-debu. Halaman depan, belakang dan samping paviliun ditumbuhi rumput-rumput liar yang tumbuh subur.
Yang membuat kening berkerut adalah dari ukuran rumah adat Pakpak yang sangat kecil, jauh berbeda dengan rumah adat daerah lain disamping kiri kanan dan depannya. Sungguh kontras perbandingan ukurannya.
Dari segi bahan yang digunakan juga tidak sepenuhnya menunjukkan keaslian rumah adat Pakpak. Seperti tangga yang terbuat dari semen bukan kayu, atap bukan terbuat dari ijuk, dan hiasan ornamen Pakpak pada bangunan dilukis yang seharusnya di ukir.
Satu lagi yang menjadi pertanyaan bagi saya dari nama rumah adat ini. Dari keterangan yang tertulis dalam prasasti pendirian yang ditandatangani Bupati Dairi Bpk. Dr.M.Tumanggor tanggal 27 April 2002, tertulis "Rumah Adat Pakpak Dairi (Sapo Jojong)". Apa tidak seharusnya tertulis hanya "Rumah Adat Pakpak..?" Hal ini tentu bisa menjadi bahan salah penafsiran dan bahan pertanyaan bagi pengunjung yang ingin tau tentang Suku Pakpak. Tentu akan membingungkan tentang "Suku Pakpak" dengan "Suku Pakpak Dairi".
Inilah penilaian saya sebagai pengunjung. Saya tidak tau apa latar belakang kejanggalan dan kekurangan-kekurangan tersebut. Apa memang seharusnya begitu?
Harapan kita, alangkah baiknya jika Rumah Adat ini diperhatikan, ditata dengan menarik, dirawat dan dijaga seperti yang dilakukan daerah/suku lain. Dan terpenting adalah rumah adat Pakpak dibuat sesuai dengan kondisi asli. Baik dari segi bahan, desain, dan sebagainya. Harus dilibatkan partua yang mengerti adat dan budaya Pakpak.
Penataan disemua lini perlu diperhatikan, ini penting karena rumah adat ini akan menjadi contoh mewakili Suku Pakpak, terutama dari sisi budayanya. Jika ini tetap dibiarkan, mau tidak mau saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), maka "Orang Pakpak Akan Malu Melihat Rumahnya Sendiri".
Siapa yang bertanggung jawab? Adalah kita semua suku Pakpak. Terutama Pemerintah sebagai perpanjangan tangan masyarakat Pakpak.
Written By Juwita on Wednesday, February 10, 2010 | 10:45 PM
Satu lagi objek wisata lokal di kabupaten Pakpak Bharat yaitu Air Terjun "Sampuren Simbilulu". Letaknya di Kecamatan Tinada Desa Prongil Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara Indonesia.
Jalan menuju lokasi ini masih dalam tahap pembangunan, kedepan objek wisata ini pasti bisa diandalkan karena potensi keindahannya apalagi ditata sedemiakian rupa.
Ada cerita yang melegenda di masyarakat pakpak, yaitu Cerita Bru Tinambunen dari Pakpak Suak Kelasen. Cerita ini melahirkan legenda berupa mata air yang tidak pernah kering walau musim kemarau berkepanjangan. Diyakini ini adalah bekas air mata Bru Tinambunen saat menagis.
Konon ceritanya mata air tersebut adalah berasal dari seorang wanita Berru Tinambunan yang menangis karena tidak ingin dinikahkan dan melarikan diri ke tempat tersebut. Tangisan yang tidak berhenti tersebut lama-kelamaan menjadi mata air yang diberi nama Eluh Berru Tinambunan (Eluh = Air mata). Bagi siapa yang berkunjung ke sana biasanya akan mencuci muka pada mata air itu sebagai bagian dari penghargaan akan adat-istiadat di lokasi tersebut.
Eluh Berru Tinambunen
Eluh Berru Tinambunen Terletak di kaki "Delleng Simpon" Desa Rumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu. Lokasi eluh bru Tinambunan juga merupakan tapal batas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Eluh Berru Tinambunan merupakan salah satu prioritas pembangunan objek wisata di Kabupaten Pakpak Bharat yang saat ini mulai diperhatikan oleh pemerintah. Jalan ke kawasan ini adalah jalan propinsi dan telah dibangun dan bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat. Bagi anda yang tertarik dan penasaran, silahkan berkunjung, masyarakat yang ramah siap mengantar anda ketempat tujuan.
Written By Juwita on Wednesday, December 9, 2009 | 6:12 AM
Perkembangan etnis pakpak semakin hari semakin bertambah tersebar mendiami wilayah Suak Simsim (di Kabupaten Pakpak Bharat), Suak Keppas (di Kabupaten Dairi), Suak Pegagan (di Kabupaten Dairi), Suak Boang (di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam) dan Suak Kelasen (di Kabupaten Humbang Hasundutan) serta tersebar diseluruh penjuru nusantara bahkan dunia.
Senja di Delleng Simpon, terlihat dari Desa Ulumerah
Etnis Pakpak adalah satu suku bangsa sebagai bagian NKRI yang memiliki budaya tersendiri. Budaya ini harus tetap dipelihara sebagai asset dan identitas etnis Pakpak. Harus ada tindakan-tindakan agar budaya ini tetap terpelihara. Namun sampai saat ini belum ada hal yang menonjol sebagai “tembok kokoh” untuk menjaga dan memelihara budaya Etnis Pakpak agar tetap lestari. Cukup beralasan jika masyarakat Pakpak segera menciptakan Pusat Budaya Pakpak misalnya satu kawasan yang tertata menarik dan sedemikian rupa sehingga menjadi satu kawasan Wisata Adat sebagai pusat budaya.
Wisata Adat Pakpak di Delleng Simpon
Untuk mewujudkan cita-cita ini, satu opini adalah pembangunan Wisata Adat Pakpak Lima Suak di Delleng Simpon Kabupaten Pakpak Bharat. Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat memiliki potensi yang besar untuk mewujudkan ini. Harus ada gebarakan besar pembangunan di Kabupaten Pakpak Bharat khususnya yang mengarah pelestarian budaya Pakpak sekaligus bernilai ekonomi yang bisa menggerakkan roda pembangunan Kabupaten ini. Kabupaten Pakpak Bharat kedepan harus bisa jadi pusat budaya dan pustaka visual budaya Pakpak.
Sun Rise di Delleng Simpon
Mengapa di Kabupaten Pakpak Bharat..?
Dari lima suak yang mendiami ulayat suku pakpak di atas, faktanya mayoritas penduduk asli suku pakpak yang mendiami satu daerah adalah di Kabupaten Pakpak Bharat;
Dari segi letak geografis Kabupaten Pakpak Bharat berada ditengah-tengah kelima suak pakpak sehingga menjadi titik focus yang bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat Pakpak dari semua suak dengan mudah;
Nilai budaya dan Adat Pakpak di Kabupaten Pakpak Bharat masih terpelihara dengan sempurna, belum ada campur baur dengan budaya etnis lain;
Situs peninggalan budaya Pakpak banyak ditemui di Kabupaten Pakpak Bharat seperti mejan, rumah adat dan tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan legenda serta orang-orang tua sebagai ahli adat yang memiliki pengetahuan budaya Pakpak secara turun-temurun.
Mengapa di Delleng Simpon..?
Delleng Simpon yang memiliki panorama alam yang sangat indah memiliki nilai wisata yang menarik untuk dikunjungi. Delleng simpon adalah puncak gunung tertinggi di Kabupaten Pakpak Bharat. Selama ini Delleng Simpon menjadi daerah tujuan wisata lokal yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Tak hanya masyarakat Pakpak, para pendatang dari daerah lainpun kagum akan keindahan dari panorama alam Delleng Simpon.
Kawasan Delleng Simpon merupakan batas wilayah pemerintahan Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Kawasan disekitar Delleng Simpon memiliki peninggalan-peninggalan budaya yang tinggi seperti Mata Air Eluh Berru Tnambunen, Perkemenjenan (kebun kemeyan) sebagai mata pencarian masyarakat, Barati untuk Merbanto, situs-situs budaya seperti Mejan, Rumah Adat, Lae Merah (sungai yang berwarna merah alami) serta Legenda Silaan di Desa Ulumerah;
Berada di kawasan jalan propinsi yang mudah untuk dikunjungi.
Mata air di kaki Delleng Simpon, memiliki Legenda yang terbentuk dari Air Mata Berru Tinambunen (Eluh Berru Tinambunen)
Banyak hal menarik yang bisa diciptakan di kawasan ini sehingga layak untuk dikunjungi. Secara umum kawasan ini telah memadai sebagai Pusat Budaya Pakpak, tinggal penataannya yang bersifat teknis. Masyarakat Pakpak telah banyak menjadi sarjana-sarjana yang ahli dibidang pembangunan infrastruktur, ahli wisata dan budaya, ini bisa di berdayakan. Sumbangan-sumbangan semua pihak tentu sangat diharapkan agar dicapai satu keberhasilan. Diharapkan selain menjadi pusat Budaya Pakpak kawasan ini sekaligus menjadi daerah tujuan wisata yang bisa menggerakkan roda perekonomian di Kabupaten Pakpak Bharat.
Satu perbandingan yang relevan, hal semacam ini telah berhasil dilaksanakan oleh Kabupaten Dairi yaitu pembanguna Taman Wisata Iman (TWI) di Sitinjo Dairi. Saat ini TWI menjadi satu asset wisata Kabupaten Dairi yang mampu menambah pendapatan asli daerah.
Mengapa Pakpak Bharat tidak…? Kapan lagi Pakpak Bharat jadi Nduma seperti yang dicita-citakan..?
Tindakan-tindakan besar dan tepat harus segera dilaksanakan. Atau biarkan saja “kuda” pembangunan jalan ditempat, bertahan digilas “kuda-kuda” lainnya..?
Otonomi daerah yang melahirkan Kabupaten Pakpak Bharat secara umum disambut dengan rasa gembira oleh masyarakat Pakpak khususnya masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat. Dengan berdirinya kabupaten Pakpak Bharat maka diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengatur dirinya sendiri “menunggang kuda” pembangunan menuju kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera (nduma) dengan usaha penggalian-penggalian potensi yang ada.
Written By Juwita on Wednesday, April 1, 2009 | 6:34 AM
Satu lagi rahmat Tuhan ada disini. Air Terjun Lae Une. Berada di Kecupak, sekitar 7 Km dari Kota Salak ibu kota Kabupaten Pakpak Bharat. Jika suatu hari anda berkunjung ke Salak, jangan lupa untuk singgah ke tempat ini. Air terjun ini cukup terkenal sebagai objek wisata lokal di Kabupaten Pakpak Bharat.
Air Terjun Lae Une
Kabupaten Pakpak Bharat mulai membenahi pembangunan objek wisata air terjun lae une. Saat ini jalan menuju lokasi telah dibangun, kendaraan roda dua dan empat telah bisa masuk sampai ke tepian sungai. Selain itu pondok-pondok sederhana tempat beristirahat santai sambil menikmati pemandangan Lae Une telah dibangun. Masih sederhana tapi cukup menyenangkan.
Air Terjun Lae Une
Sampai saat ini pengunjung bebas masuk ke lokasi Lae Une tanpa dikenakan pungutan retribusi. Keindahan Air Terjun Lae Une, walau belum mendapat penataan dan fasilitas yang memadai mampu mengundang kekaguman setiap orang yang melihatnya. kesejukanya dapat membuat orang terelena berlama lama di lae une,bahkan tanpa mandi merupakan sebuah kerugian yang besar apa bila berkunjung objek wisata ini.
Keindahanya membuat kita lupa kalo punya hutang. alangkah indahnya ciptaan tuhan, khususnya lae une yang diberikan kepada manusai, agar manusia selalu ingat kepada sang pencipta.Jika telah berkunjung ke tempat ini, kunjungi juga objek wisata lain di kabupaten Pakpak Bharat seperti Air Terjun Simbilulu, Delleng Simpon dan Eluh Bru Tinambunen. Jarak antara tempat wisata ini tidak terlalu jauh, dalam satu hari anda bisa mengunjunginya.
Written By Juwita on Sunday, December 28, 2008 | 6:24 AM
Delleng dalam bahasa Pakpak artinya Gunung. Delleng Simpon adalah puncak gunung tertinggi yang ada di wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, tepatnya di desa Rumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu dengan jarak sekitar 10 km dari kota Salak.
Delleng Simpon Terletak di sebelah selatan yang merupakan pembatas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Delleng Simpon memiliki daya tarik wisata alam yang indah. Tempat ini telah lama menjadi objek tujuan wisata lokal masyarakat setempat dan masyarakat dari luar daerah.
Sun Rise di Puncak Simpon (Doc. PPBB)
Dari puncak kita dapat menyaksikan matahari terbit, memandang hamparan alam yang sangat indah. Dari puncak ini akan terlihat wilayah aceh, laut singkil, humbang hasundutan, dairi, bahkan wilayah Kabupaten Samosir.
Potensi objek wisata tersebut selain menyaksikan keindahan alam dari ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, juga ada satu objek yang menarik lainnya pada lokasi tersebut yaitu mata air Berru Tinambunan "Eluh Berru Tinambunen" yang tidak pernah kering sampai saat ini walaupun dalam musim kemarau.
Konon ceritanya mata air tersebut adalah berasal dari seorang wanita bernama Berru Tinambunan yang menangis karena tidak ingin dinikahkan dan melarikan diri ke tempat tersebut. Tangisan yang tidak berhenti tersebut lama-kelamaan menjadi mata air yang diberi nama Eluh Berru Tinambunan. Bagi siapa yang berkunjung ke sana juga disarankan mencuci muka pada mata air itu sebagai bagian dari penghargaan akan adat-istiadat di lokasi tersebut.
Di kaki Delleng Simpon terdapat tapal batas antara kabupaten Humbahas dan Pakpak Bharat. Sampai saat ini masih ada masalah perbedaan yang sangat kontras pada kualitas infrastruktur jalan di perbatasan antara kedua Kabupaten. Pada ruas yang menuju Kabupaten Pakpak Bharat ruas jalan sangat mulus dan lebar sementara yang menuju ke Kabupaten Humbang Hasundutan sangat jelek dan masih dalam ukuran yang hanya bisa dilewati satu mobil.
Diperkirakan setelah jalan antara Pakpak Bharat dan Humbahas tembus, maka objek wisata delleng Simpon semakin berpotensi menjadi wisata unggulan Kabupaten Pakpak Bharat.