Written By Juwita on Friday, February 17, 2012 | 3:04 AM
Penjaga gawang Persikad Depok, Hidayat Berutu, dipastikan lolos seleksi Timnas PSSI U-21, yang akan bertarung di turnamen Sultan Hasanah Bolqiah di Brunei Darussalam, 27 Februari mendatang.
Pria kelahiran Medan, 22 Juni 1991 setinggi 190 cm ini menyisihkan 6 kiper lainnya yang ikut seleksi timnas U-21. “Saya ingin memberikan yang terbaik, dan siap bersaing menjadi kipper inti di timnas,” tuturnya kepada wartawan, Rabu (11/1).
Berutu menjadi satu-satunya pemain klub Depok yang diasuh Wahyu Ramadani yang lolos seleksi akhir. Tiga rekannya di Persikad, yakni Marta Dinata (gelandang), Imran Idris (gelandang), dan M. Aidil (striker) belum dapat menembus seleksi ini.
Seperti dilansir harian lokal Monitor Depok, setelah ini Berutu dan 24 pemain lainnya yang lolos seleksi timnas U-21 akan dikerucutkan lagi menjadi 18 pemain untuk diberangkatkan ke Brunei. Seleksi timnas U-21 sendiri akan dilanjutkan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Written By Juwita on Saturday, January 22, 2011 | 10:40 PM
YOGYAKARTA - Rekonstruksi identitas etnik dapat terjadi karena adanya pendefinisian etnisitas, adaptasi atau tradisi, di samping adanya peluang elit yang memegang kekuasaan dan memanipulasi sentimen etnisitas. Dari keseluruhan proses reka ulang identitas etnik ini dihasilkan transformasi orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya.
ugm.ac.id
Entitas politik ini memproduksi simbol teritorial dan simbol politis, yakni Kabupaten Pakpak Barat. Namun, sebagai akibat dari proses historis yang berbeda-beda dalam subkelompok etnik ini, terutama terbelahnya orang Pakpak menjadi lima suku dengan orientasi keagamaan yang berbeda, membuat etnik Pakpak menghadapi persoalan dalam membentuk sebuah entitas kultural yang terpancang berdiri tegak sebagai satu kesatuan di tanah adatnya. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mengonsolidasi dan mengkristalkan konstruksi identitas etnik Pakpak pada masa mendatang. “Dari seluruh proses reka ulang identitas etnik ini akhirnya menghasilkan orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya,” terang Drs. Budi Agustono, M.Hum. dalam ujian doktor di Ruang Multimedia Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Senin (27/12).
Dalam ujian tersebut, Agus mempertahankan disertasi yang berjudul Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958-2003. Hadir sebagai penguji dalam kesempatan itu, Dr. Ida Rochani Adi, S.U., Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. (promotor), Prof. Dr. Djoko Suryo, Prof. Dr. Djoko Soekiman, Dr. Sri Margana, M.Phil., Prof. Dr. Purwo Santoso, Prof. Dr. R.M. Soedarsono, dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Dalam ujian tersebut, Budi berhasil mempertahankan penelitiannya dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Di hadapan tim penguji, Budi mengatakan tujuan penelitian yang dilakukannya adalah untuk menjelaskan politik identitas dan perebutan ruang politik dalam pembentukan identitas kultural kelompok etnik di tengah perubahan rezim sejak Indonesia merdeka. Kajian etnisitas dan formasi identitas sebagian besar banyak dikerjakan oleh antropolog dan sosiolog, sedangkan sejarawan masih sedikit yang memberi perhatian terhadap kajian etnisitas ini. “Ada kesan kajian dalam historiografi Indonesia mengenai etnisitas seperti terabaikan,” imbuh staf pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, ini.
Teori penelitian ini adalah bahwa relasi antara etnisitas dan identitas jalin berkelindan. Etnisitas dapat berubah-ubah, tergantung dengan siapa ia berinteraksi. Identitas etnik merupakan fenomena yang adaptif dan dalam merespon situasi yang berubah, batasan-batasan kolektifitas dapat meluas, bahkan orang atau sebagian orang dapat keluar dan masuk dalam lebih dari satu komunitas. “Dengan demikian, etnisitas merupakan hal yang dinamis, tidak pasti, not a fixed, dan berubah dalam hubungan politik dan sosial. Penelitian ini sekaligus memakai pendekatan instrumentalis dalam menjelaskan rekonstruksi identitas etnik Pakpak,” kata pria kelahiran Deli Serdang, 5 Agustus 1960 ini.
Beberapa hasil penelitian yang diperoleh, antara lain, pertama, kedatangan Belanda selain menggabungkan Tanah Pakpak dalam orbit kekuasaan kolonial, juga memarginalisasi elit tradisional Pakpak. Kedua, migrasi Batak Toba ke Tanah Pakpak yang dimulai pada awal abad kedua puluh telah melemahkan identitas kultural penduduk asli ini. Setelah itu, muncul pelabelan-pelabelan etnik yang merendahkan orang Pakpak.
Ketiga, setelah menguasai permukiman dan mayoritas penduduk di wilayah ini, terutama di Sidikalang, orang Batak Toba mulai mengganti nama-nama tempat yang menyimbolkan identitas kultural Pakpak dengan bahasa Batak Toba, misalnya sungai yang sebelumnya bernama aek sibellen (Pakpak) diubah menjadi lae simbolon (Batak Toba), Desa Sikaliki (Pakpak) menjadi Palipi, dll.
Keempat, sejak kristenisasi masuk ke Tanah Pakpak, orang Pakpak bergereja di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Bersamaan dengan semakin menguatnya identitas etnik, orang Pakpak melakukan gerakan pemisahan gereja dari HKBP. Setelah melakukan serangkaian konflik antara orang Pakpak dengan HKBP, akhirnya pada 1991 berdiri gereja etnik Pakpak bernama Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).
Source : www.ugm.ac.id - Rilis Universitas Gajah Mada
Written By Juwita on Thursday, February 5, 2009 | 9:06 AM
Duri itu begitu tajam Menusuk, menghujam Tak disangka, Kenapa duri itu menusuk bapak..? Kenapa harus bapak..?
Sakit pak.. Amat Sakit.. Sakit bapak rasakan, Sakit bagi citra demokrasi negeri ini, Sakit bagi orang-yang mencintai bapak, Sakit bagi orang-orang yang kenal pada bapak, Sakit bagi orang-orang yang sama sekali tidak mengenal bapak, Sakit bagi jiwa-jiwa yang cinta damai.. Paling sakiiiiit bagi kami anak-anak bapak yang telah bapak tinggalkan.. Pak Aziz..
Perjalanan indah bapak dalam menuntun kami, Kami banggakan, Tak ada cela bagi bapak, Bapak kami percayakan terdepan, Hingga duri itu tak bisa bapak hindari
Pak Aziz Kepergian bapak.. Menggemparkan tangis bagi kami, seperti gempuran roket-roket perang bagi kami Pilu.. Sedih.. Gundah.. Dendaaamm pada kejaliman.. Dendammm pada anarkisme mengatasnamakan demokrasi..
Pak Aziz.. Meski air mata kami darah Meski tangis kami memecah bumi menggelagarkan sangkakala., Meski duri-duri yang menusuk bapak dimusnahkan, dibakar, dilaknat ke neraka.. Tapi pak..bapak..bapak kami,.. tak ada kuasa kami menahan kepergian bapak.
Pak Aziz.. Takdir berkata ini harus terjadi, Dalam kepiluan kesedihan kami mengikhlaskan bapak pergi.. Pergi meninggalkan kami anak-anak bapak.. Selamat jalan pak..
Doa kami Syurga firdaus dengan indahnya senyum Riduan menanti bapak.
Pak Aziz.. Bapak pahlawan kami, Membuka mata kami akan duri-duri yang mengancam..
Pak Aziz.. Perjalanan bapak tak ada sia-sia.. Jadi pelajaran beharga bagi kami, Anak-anak bapak Akan meneruskan perjalanan ini..
Bapak yang tertusuk duri Smoga membuat kami lebih hati-hati menapak jalan kedepan..
Sahabat-sahabatku Mari bangkit lagi.. Tak ada alasan menyerah.. Kita lanjutkan perjalanan ini.. Mari bersatu,, Melewati duri-duri..mengalahkan duri-duri dengan prestasi.
Njuah-njuah banta karina
(Mengenang atas meninggalnya bapak Drs.H.Aziz Angkat Msp,Ketua DPRD propinsi Sumatera Utara, akibat aksi anarkisme massa demonstran pendukung Propinsi Tapanauli/Protap, 3 Pebruari 2009 di Gedung DPRD Propsu)