Cari Blog Ini

Showing posts with label Inspirasi Budaya. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi Budaya. Show all posts

Gumpar Lae, Radio dan Tape Dalpak

Written By Juwita on Thursday, October 13, 2011 | 9:02 PM

Ongaa... ongaa.....

Enggo tubuh si upik manang si ucok..

Mengkade ia tubuh ? Enggo kessa ia merkessah, harapan partuana, tetanggana, dengan-denganna, pemerintahna sampe portibina nan, unang mo nemu asal tubuh ia, tapi perkitubuhna merembahken kinimende mo nemmu.

Kinimende nina boi dapetta tandana mla boi kita kibreken kinimende mendahi kalak. Bakune asa boi kibre kinimende dalanna imo berbuat, kirana, dkket berbuat dan kirana Tapi mermaccam ngo njelma si tubuh i portibi enda. Kira-kira lot mo tellu maccam njelma si enggo i crretken i. En mo ia kaltu :

1. Gumpar Lae
I tandai kengo gumpar lae ? mla ke sibiasa makkur sabah bage penulis en pastina i tandai ke ngo i. Imo sada alat "teknologi tepat guna" pemuro perrik, alat en boimo ta singkat APPM (Automated Pemuro Perrik Machine).

Sifatna lalap karejo, oda pernah meradi asal lot deng tenaga ibreken lae. Scara beraturen ia kirana tapi toko ngo gangna,, puar puar puarrrrrrr... nina baru merlojangen mo perrik i janah biahat i pe mbiar ngo kluar i rambah nai, bagima bodat mbiar menangko togoh si sangket i pantar sabah.

En mo boi analogi sada maccam njelma si lalap mengula. Berbuat terus-menerus dan bicara dengan teratur. Ia membantu sidasa sabah tanpa harus kipido balasan. Keuntunganna bana ia mamo perjolo ki akapi bakune rasana lae pancur. Ia merembahken kinimende oda kessa mi kluargana (sidasa sabah) tapi bagi ma mi kalak sideban (sabah i kepar). Pengindon, bage gumpar lae mo nemmu kita.

2. Radio
En maccam njelma peduaken, lalap kirana, tapi oda nung mengula. Tapi nangpe bagi, mla si mende-mende ngo idokken ia, merembah kinimende mango i mendahi kita. Mendahi njelma sibageni, be njelma si gumpar lae, ta begge mo rana-rana mendena asa ta ulaken, nang pe kirana kessa i bettoh mla tuhu ranana, mende ngo i oe.

Tapi mla si mreho-mroha ngo idokken boi mo ta pastakken i. kumerna harga TV enggo murah boi jadi gantina.

Artina mla oda kita boi jadi gumpar lae jadi radio mo giam. Jika kita tidak bisa berbuat dan bicara, maka bicara sebagai motivator itu juga baik, sebagai penunjuk arah, sebagai penasehat dan pengingat dikala lupa. Kirana sambing memang kurang mende, tapi mla mende ngo pengranan i secara oda langsung lot ngo manfaat si enggo ta brre mi portibi en i bas pergelluh ta.

3. Tape Dalpak
En maccam njelma peteluken, i tandai kengo tape tangi.. bakune mla i lapatken tape i mi perdempaken ?
Enggo dalpak tangi, merkade poda boi, i pkeke pe payah. En mo tipe njelma si payahna, gelluh asal gelluh tapi oda lot merembah kinimende, kirana poda boi, mengulaken apalagi, i ajari oda get, mengajari oda boi. Bage umpama Pakpak, Ia mo pkeken baka ndilo, bedilen tongkoh,........
bersambung
9:02 PM | 0 comments | Read More

169 Bahasa Daerah Terancam Punah. Termasukkah Bahasa Pakpak ?

Written By Juwita on Monday, August 22, 2011 | 8:18 PM




Google Images
Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang.

Agar tidak punah, maka preservasi dan pemberdayaan terhadap berbagai bahasa daerah di seluruh Indonesia serta pengembangan bahasa Indonesia, perlu dilakukan secara serius, terus menerus, dan kesinambungan. Hal itu diungkapkan Multamia RMT Lauder dari Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam seminar Empowering Local Language Through ICT yang digelar Departemen Komunikasi dan Informatika, Senin (11/8) di Jakarta.

Bahasa-bahasa yang tercancam punah itu tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Antara lain bahasa Lom (Sumatera) hanya 50 penutur. Di Sulawesi bahasa Budong-budong 70 penutur, Dampal 90 penutur, Bahonsuai 200 penutur, Baras 250 penutur. Di Kalimantan bahasa Lengilu 10 penutur, Punan Merah 137 penutur, Kareho Uheng 200 penutur. Wilayah Maluku bahasa Hukumina satu penutur, Kayeli tiga penutur, Nakaela lima penutur, Hoti 10 penutur, Hulung 10 penutur, Kamarian 10 penutur, dan bahasa Salas 50 penutur. Di Papua bahasa Mapia satu penutur, Tandia dua penutur, Bonerif empat penutur, dan bahasa Saponi 10 penutur.

Multamia menjelaskan, pada umumnya bahasa daerah yang jumlah penurutnya sedikit cenderung merupakan bahasa yang tidak mempunyai tulisan. Dengan demikian, tradisi lisan yang berkembang pada bahasa-bahasa minoritas ini jika tidak segera didokumentasikan maka akan sangat sulit untuk mempertahankan eksistensi mereka.

Ahli linguistik ini berpendapat, langkah awal untuk melakukan antisipasi adalah mendaftarkan bahasa-bahasa yang jumlahnya penuturnya sedikit. Bahasa yang dapat dikategorikan sebagai bahasa yang berpenutur sedikit namun masih mempunyai potensi untuk hidup, sebenarnya adalah bahasa-bahasa yang penutur sekurang-kurangnya 1.000 orang. " Oleh karena itu, sebagai langkah awal diinterpretasikan bahasa-bahasa yang jumlah penuturnya 500 orang atau kurang, dapat dikategorikan sebagai bahasa yang cenderung dianggap memasuki ambang proses berpotensi terancam punah," tandas Multamia.

Ia berpendapat, harus ada kemauan dari pihak pemerintah dan masyarakat penuturnya untuk menyelamatkan bahasa-bahasa yang terancam punah itu mengingat daya saingnya lemah, sehingga sulit bersaing dengan bahasa-bahasa daerah yang besar. Belum lagi tuntutan untuk mampu bersaing dengan bahasa Indonesia yang berstatus sebagai bahasa nasional. "Ada baiknya bahasa daerah yang terancam punah itu diolah menjadi buku dan mulai diajarkan sebagai materi ajar muatan lokal. Dengan demikian sedikit-demi sedikit, bahasa dan budaya yang terancam punah itu mulai dikenal lagi oleh generasi muda," papar Multamia (nasional.kompas.com : 11/08/08)

Artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi suku Pakpak untuk tetap memelihara kelestarian bahasa Pakpak, karena bahasa daerah adalah aset budaya yang berharga. Jangan sampai bahasa Pakpak hilang perlahan-lahan karena penutur yang semakin sedikit dan tidak adanya kepedulian kita terhadap bahasa Pakpak. Sampai saat ini bahasa Pakpak memang masih dalam titik aman dari kepunahan karena penutur bahasa Pakpak saat ini berjumlah ribuan orang.
8:18 PM | 0 comments | Read More

Cara Orang Australia Menyelematkan Bahasa Daerah Yang Hampir Punah

Written By Juwita on Saturday, August 20, 2011 | 12:34 AM

Artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi suku Pakpak untuk tetap memelihara kelestarian bahasa Pakpak, karena bahasa daerah adalah aset budaya yang berharga. Jangan sampai bahasa Pakpak hilang perlahan-lahan karena penutur yang semakin sedikit dan tidak adanya kepedulian kita terhadap bahasa Pakpak.

Seperti yang dikutip dari AsiaCalling.Org, Suku asli Australia sudah menempati negara itu sejak 40 ribu tahun lalu. Tapi ketika orang-orang Inggris pertama kali datang, 220 tahun yang lalu, kebudayaan suku ini berubah. Berbagai penyakit yang masuk ke Australia melalui para pendatang ini menyerang penduduk Aborigin.

Dan setelah waktu berlalu, pemerintah Australia mengeluarkan kebijakan yang menjauhkan mereka dari kebudayaan dan indentitasnya. Akibatnya bahasa asli Aborigin terancam punah. Tapi seperti yang dilaporkan Elise Potaka-Osborne ketika ia berkunjung ke sebuah balai pertemuan di Sidney, bahasa tersebut masih bisa diselamatkan. Ketika siang, anak-anak belajar bahasa Dharug di balai pertemuan Villawood. Bahasa Dharug adalah bahasa asli di (lembah) basin Sydney. Ada 250 bahasa asli Australia ketika bangsa Eropa datang ke negeri ini. 
Kini, lebih dari setengah ragam bahasa itu tidak digunakan. Sedangkan sisanya punah karena jarang sekali digunakan. Tapi beberapa tahun ini, masyarakat kembali mencoba menggunakan bahasa daerah mereka. Richard Green adalah guru bahasa Dharug di Balai Pertemuan Villawood.

"Dialek bahasa Dharug dan Dharawal sangat serupa. Kami mengajar orang-orang supaya mereka bisa menyebutkan nama mereka, menanyakan Apakah Anda lapar, atau haus, Apakah Anda mau duduk dan juga hubungan dalam keluarga." John Beale sedang belajar bahasa Dharug. Beale dan sebagian kawannya menganggap bahasa ini perlu dipelajari karena mereka warga asli aborigin. "Saya bangga sekali. Saya belajar supaya saya bisa pakai bahasa saya sendiri." Program bahasa di Villawood digagas oleh Robbie Bell, seorang pekerja sosial.

"Menurut saya, kalau mereka belajar bahasa asli, identitas mereka akan menjadi semakin jelas. Waktu saya naik kereta api atau bis, saya mendengar banyak orang yang berbicara dengan berbagai bahasa yang berbeda. Ini membuat saya merasa ada yang kurang." Robbie Bell mengisahkan bagaimana neneknya menggunakan bahasa asli daerahnya. Padahal ia sendiri tidak pernah mempelajarinya.

Tahun 1965 lalu, pemerintah Australia menempatkan orang-orang Aborigin di tempat-tempat penampungan khusus. Di sana mereka hanya boleh memakai bahasa Inggris. Bila melanggar mereka dapat hukuman berat. "Kalau Anda pakai bahasa asli, Anda tidak akan dikasih makanan. Karena kita boleh pakai bahasa itu."

Richard Green berusaha menghidupkan kembali bahasa asli yang sudah lama tidak digunakan. Ini tentu saja tugas yang sulit. Green perlu waktu lama untuk meneliti dan mencari berbagai narasumber. "William Dawes membuat daftar kosakata dan daftar itu sudah ada di Inggris. Kami baru saja dapat izin untuk mendokumentasinya. Dan seperti bahasa lain pada umumnya, harus sering digunakan. Orang-orang harus tahu darimana asal usul bahasa itu."

Sementara waktu, anak-anak lebih sering mempelajari bahasa Dharug. Richard Green dan Robbie Bell terus mendorong mereka untuk menggunakannya dengan para orang tua. Terutama untuk mereka yang pernah dilarang menggunakannya selama bertahun-tahun. "Menurut saya para orang tua yang sudah lama tidak menggunakan bahasa ini senang sekali melihat orang-orang muda yang sekarang mempelajarinya." Paman Ivan di Cambpelltown begitu tertarik dengan bahasa ini. Ia juga senang karena bisa dipakai lagi.
12:34 AM | 0 comments | Read More