Cari Blog Ini

Jabatan, Mutasi, Promosi dan Demosi..?

Written By Juwita on Tuesday, March 29, 2011 | 11:11 PM

Sebagaimana elemen organisasi yang lain sumberdaya manusia harus dikelola dengan baik. Bahkan bisa dikatakan babwa pengelolaan organisasi pada dasarnya adalah proses pengelolaan manusia. Semua organisasi apapun jenis, ukuran, fungsi ataupun tujuannya harus beroperasi dengan dan melalui manusia.

Seringkali effisiensi pelaksanaan organisasi tergantung pada pengelolaan dan pendayagunaan manusia, itulah sebabnya maka setiap manajer harus mampu bekerja secara efektif dengan manusia, dan harus mampu memecahkan bermacam-macam persoalan sehubungan dengan pengelolaan sumberdaya manusia.

Untuk bisa menerapkan motto “The Right Man on the Right Place at the Right Time” ada beberapa hal yang harus diketahui. Dari sudut organisasi, maka unsur pertama yang harus diketahui adalah unsur “PLACE-” nya, sebab perusahaan sebagai organisasi adalah wadah tempat manusia (Man) bekerja. Tempat bekerja ini seringkali secara lebih spesifik disebut sebagai Jabatan. Jabatan Ialah sekumpulan pekerjaan (job) yang berisi tugas-tugas yang sama atau berhubungan satu dengan yang lain, dan yang pelaksanaannya meminta kecakapan, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang juga sama meskipun tersebar di berbagai tempat.

Pengelolaan jabatan harus sesuai dengan tujuan organisasi. Tercapainya tujuan secara efektif dan efisien dilakukan dengan penempatan orang-orang pada posisi yang tepat, bukan menempatkan orang-orang sesuai keinginan pemimpin organisasi tapi harus sesuai dengan kebutuhan organisasi. Pemimpin memiliki andil besar dalam proses pengelolaan SDM seperti keputusan dalam menetapkan Mutasi, Promosi dan Demosi.

MUTASI
Kebijakan kepala daerah melakukan pergantian pimpinan maupun staf di sebuah instasi pemerintah, sering disalah artikan sebagai hukuman. Kata hukuman mendominasi dalam menyikapi pergantian kepala dinas atau badan. Tidak hanya itu. Pegawai golongan buntutpun kadang tidak luput dari keputusan para kepala daerah untuk hengkang dari tempat kerja yang sudah lama ditekuninya.

Sebagian pejabat hanya bisa pasrah. Bagi pejabat yang memahami betul tentang tugas dan makna sumpah atau janji saat para pamong (PNS) tersebut diangkat menjadi pelayan masyarakat, merasa biasa bahkan diuntungkan dengan adanya mutasi. Mutasi adalah proses yang secara hukum sah dilakukan dilingkungan pemerintah. “Mutasi adalah ketentuan yang harus dilaksanakan. Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Perangkat Daerah, merupakan salah satu dari sekian banyak peraturan tentang kepegawaian, yang di dalamnya juga mengatur tentang mekanisme dan ketentuan mutasi. Karena itu, mutasi harus dipahami sebagai berkah karena dengan mutasi, pegawai banyak diuntungkan ketika berbicara tentang karir.

Kesan hukuman jika seorang pejabat atau staf dipindahkan dari dinas atau kantor yang satu ke dinas atau bagian yang lain hanyalah sebuah opini yang tidak bisa dibuktikan keabsahaannya. “Yang dikatakan hukuman itu apabila seorang pejabat atau staf ditempatkan tidak sesuai dengan pangkat dan atau golongan yang bersangkutan. Dan ini juga tidak gampang bagi Baperjakat. Tapi sepanjang ditempatkan sesuai dengan pangkat atau golongan dari pejabat atau staf yang bersangkutan tentu tidak ada yang salah.

Kebijakan untuk melakukan mutasi merupakan sesuatu yang sangat normatif. Dalam urusan mutasi, kebijakan kepala daerah dalam melakukan mutasi disadari sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan. Jika mutasi tidak dilakukan maka ada sesuatu yang tidak beres dalam mengelola daerah.

Mutasi memang peristiwa yang unik dilingkungan PNS. Dipihak yang merasa nyaman dengan jabatan dan lingkungan kerjanya, mutasi adalah sebuah siksaan. Pada peristiwa yang sama, bagi sejumlah PNS, mutasi merupakan berkah. Penyebabnya bisa karena bosan dengan suasana kerja maupun ambisi untuk mendapat tantangan baru atau jabatan baru.. Namun tidak dipungkiri kata mutasi merupakan sebuah kata yang seram dikuping pejabat atau staf pemerintahan.

PROMOSI
Promosi adalah penghargaan dengan kenaikan jabatan dalam suatu organisasi ataupun instansi baik dalam pemerintahan maupun non pemerintah (swasta). Hal inilah yang banyak diusahakan oleh kalangan pekerja agar bias menjadi lebih baik dari jabatan yang sebelumnya ia jabat. Dan juga demi peningkatan dalam status social.

Promosi merupakan kesempatan untuk berkembang dan maju yang dapat mendorong karyawan untuk lebih baik atau lebih bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan.
Dengan adanya target promosi, pasti karyawan akan merasa dihargai, diperhatikan, dibutuhkan dan diakui kemampuan kerjanya oleh manajemen perusahaan sehingga mereka akan menghasilkan keluaran (output) yang tinggi serta akan mempertinggi loyalitas (kesetiaan) pada perusahaan. Oleh karena itu, pimpinan harus menyadari pentingnya promosi dalam peningkatan produktivitas yang harus dipertimbangkan secara objektif. Jika pimpinan telah menyadari dan mempertimbangkan, maka perusahaan akan terhindar dari masalah-masalah yang menghambat peningkatan keluaran dan dapat merugikan perusahaan seperti: ketidakpuasan karyawan, Adanya keluhan, tidak adanya semangat kerja, menurunnya disiplin kerja, tingkat absensi yang tinggi atau bahkan masalah-masalah pemogokan kerja.

DEMOSI
Demosi adalah penurunan jabatan dalam suatu instansi yang biasa dikarenakan oleh berbagai hal, contohnya adalah keteledoran dalam bekerja. Demosi adalah suatu hal yang sangat dihindari oleh setiap pekerja karena dapat menurunkan status, jabatan, dan gaji.

Namun, hal seperti ini (promosi dan demosi) biasa dilakukan oleh beberapa instansi ataupun perusahaan demi peningkatan kualitas kerja, dan juga sebagai motivasi bagi karyawannya agar mau berusaha untuk memperoleh yang diinginkan. Mendapatkan promosi dan menghindari demosi. Jadi, memang benar jika perusahaan-perusahaan ingin maju, maka harus menciptakan kompetisi bagi para karyawannya agar mereka tekun dalam bekerja dan tidak selalu berpangku tangan pada karyawan lainnya.

Apabila karyawan memiliki produktivitas dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju roda pun akan berjalan kencang, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan. Di sisi lain, bagaimana mungkin roda perusahaan berjalan baik, kalau karyawannya bekerja tidak produktif, artinya karyawan tidak memiliki semangat kerja yang tinggi, tidak ulet dalam bekerja dan memiliki moriil yang rendah

Standarnya Mutasi, Promosi dan Demosi dilakukan dengan tetap mengarah pada  tujuan dan kepentingan organisasi. Pengelolaan SDM ini bukan untuk kepentingan segelintir orang-orang yang berperan dalam organisasi untuk tujuan individu atau kelompok. Jika hal ini terjadi dipastikan telah ada kesalahan dalam sistem organisasi tersebut yang harus diperbaiki. Jika tidak tujuan organisasi akan melenceng dan jauh dari sasaran atau berjalan tertatih-tatih disaat organisasi lain melaju kencang.
 (Dari berbagai sumber)
11:11 PM | 0 comments | Read More

Kenakan Pakaian Adat Pakpak, Menteri Semangat

Written By Juwita on Saturday, March 19, 2011 | 6:30 AM

Pembukaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-40 di Tapian Daya, Jl Gatot Subroto, Medan, Jumat (18/3/2011) malam berlangsung meriah. Acara ini dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad yang mewakili presiden Indonesia Susilo Bambang Yudoyono. Presiden tidak bisa hadir karena kesibukan tugas sehingga diwakilkan kepada Pak Fadel.

Pada acara pembukaan acara tahunan yang bergengsi di Sumut ini, yang menarik terutama bagi masyarakat Pakpak adalah pakaian yang dikenakan oleh Menteri. Pada saat itu baju kebesaran yang dipakai adalah Baju Adat Pakpak. Hal ini tentu membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pakpak, karena Pakaian Adat Pakpak dipercaya layak untuk dikenakan sebagai baju kehormatan untuk presiden RI dalam hal ini diwakili menterinya.

pakaian baju adat pakapak
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memakai Pakaian Adat Pakpak ketika membuka pelaksanaan Pekan Raya Sumut (PRSU) ke- 40 di Medan (18/3) | Photo: Antara Sumut
Ketika akan menaiki pentas untuk memberikan kata sambutan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad berjalan dengan perlahan sambil menggunakan tongkatnya, yaitu tongkat khas saat mengenakan baju adat Pakpak, sehingga menjadi perhatian pengunjung PRSU. Wagubsu, bupati dan wali kota se-Sumut serta seluruh pengunjug PRSU memberikan tepukan meriah atas sikap yang ditunjukkan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad itu.

“Saya semangat karena menggunakan pakaian kebesaran,” katanya memberikan komentar pemnbuka terhadap Baju Pakpak yang dikenakan sebelum menyampaikan kata sambutan.

Ketua Yayasan PRSU Panusunan Pasaribu mengatakan, pembukaan PRSU ini juga sebagai peringatan hari jadi Sumut yang ke-63 pada 15 April 2011. Wagubsu menyebutkan, pihaknya berbangga hati dengan perayaan PRSU ke-40 tersebut karena dibuka perwakilan pemerintah pusat yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad. “Bangga karena dalam enam tahun terakhir, PRSU tidak dibuka perwakilan pemerintah pusat,” katanya seperti yang diberitakan oleh Antara Sumut.

Disisi lain ternyata ribuan orang Pakpak merasa turut semangat menyikapi pakaian tradisional Pakpak yang dikenakan menteri tersebut, hal kecil tetapi sebagai simbol yang berarti, memberikan rasa percaya diri khususnya bagi masyarakat Pakpak pemilik pakaian adat tersebut.
6:30 AM | 0 comments | Read More

Raih Gelar Doktor Dengan Meneliti Identitas Etnik Orang Pakpak

Written By Juwita on Saturday, January 22, 2011 | 10:40 PM


YOGYAKARTA - Rekonstruksi identitas etnik dapat terjadi karena adanya pendefinisian etnisitas, adaptasi atau tradisi, di samping adanya peluang elit yang memegang kekuasaan dan memanipulasi sentimen etnisitas. Dari keseluruhan proses reka ulang identitas etnik ini dihasilkan transformasi orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya.

ugm.ac.id
Entitas politik ini memproduksi simbol teritorial dan simbol politis, yakni Kabupaten Pakpak Barat. Namun, sebagai akibat dari proses historis yang berbeda-beda dalam subkelompok etnik ini, terutama terbelahnya orang Pakpak menjadi lima suku dengan orientasi keagamaan yang berbeda, membuat etnik Pakpak menghadapi persoalan dalam membentuk sebuah entitas kultural yang terpancang berdiri tegak sebagai satu kesatuan di tanah adatnya. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mengonsolidasi dan mengkristalkan konstruksi identitas etnik Pakpak pada masa mendatang. “Dari seluruh proses reka ulang identitas etnik ini akhirnya menghasilkan orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya,” terang Drs. Budi Agustono, M.Hum. dalam ujian doktor di Ruang Multimedia Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Senin (27/12).

Dalam ujian tersebut, Agus mempertahankan disertasi yang berjudul Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958-2003. Hadir sebagai penguji dalam kesempatan itu, Dr. Ida Rochani Adi, S.U., Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. (promotor), Prof. Dr. Djoko Suryo, Prof. Dr. Djoko Soekiman, Dr. Sri Margana, M.Phil., Prof. Dr. Purwo Santoso, Prof. Dr. R.M. Soedarsono, dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Dalam ujian tersebut, Budi berhasil mempertahankan penelitiannya dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Di hadapan tim penguji, Budi mengatakan tujuan penelitian yang dilakukannya adalah untuk menjelaskan politik identitas dan perebutan ruang politik dalam pembentukan identitas kultural kelompok etnik di tengah perubahan rezim sejak Indonesia merdeka. Kajian etnisitas dan formasi identitas sebagian besar banyak dikerjakan oleh antropolog dan sosiolog, sedangkan sejarawan masih sedikit yang memberi perhatian terhadap kajian etnisitas ini. “Ada kesan kajian dalam historiografi Indonesia mengenai etnisitas seperti terabaikan,” imbuh staf pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, ini.

Teori penelitian ini adalah bahwa relasi antara etnisitas dan identitas jalin berkelindan. Etnisitas dapat berubah-ubah, tergantung dengan siapa ia berinteraksi. Identitas etnik merupakan fenomena yang adaptif dan dalam merespon situasi yang berubah, batasan-batasan kolektifitas dapat meluas, bahkan orang atau sebagian orang dapat keluar dan masuk dalam lebih dari satu komunitas. “Dengan demikian, etnisitas merupakan hal yang dinamis, tidak pasti, not a fixed, dan berubah dalam hubungan politik dan sosial. Penelitian ini sekaligus memakai pendekatan instrumentalis dalam menjelaskan rekonstruksi identitas etnik Pakpak,” kata pria kelahiran Deli Serdang, 5 Agustus 1960 ini.

Beberapa hasil penelitian yang diperoleh, antara lain, pertama, kedatangan Belanda selain menggabungkan Tanah Pakpak dalam orbit kekuasaan kolonial, juga memarginalisasi elit tradisional Pakpak. Kedua, migrasi Batak Toba ke Tanah Pakpak yang dimulai pada awal abad kedua puluh telah melemahkan identitas kultural penduduk asli ini. Setelah itu, muncul pelabelan-pelabelan etnik yang merendahkan orang Pakpak.

Ketiga, setelah menguasai permukiman dan mayoritas penduduk di wilayah ini, terutama di Sidikalang, orang Batak Toba mulai mengganti nama-nama tempat yang menyimbolkan identitas kultural Pakpak dengan bahasa Batak Toba, misalnya sungai yang sebelumnya bernama aek sibellen (Pakpak) diubah menjadi lae simbolon (Batak Toba), Desa Sikaliki (Pakpak) menjadi Palipi, dll.

Keempat, sejak kristenisasi masuk ke Tanah Pakpak, orang Pakpak bergereja di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Bersamaan dengan semakin menguatnya identitas etnik, orang Pakpak melakukan gerakan pemisahan gereja dari HKBP. Setelah melakukan serangkaian konflik antara orang Pakpak dengan HKBP, akhirnya pada 1991 berdiri gereja etnik Pakpak bernama Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). 

Source : www.ugm.ac.id - Rilis Universitas Gajah Mada
Raih Doktor, Teliti Identitas Etnik Orang Pakpak 
(Humas UGM/Satria AN)
10:40 PM | 0 comments | Read More

Masihkah Adat Pakpak = Identitas Pakpak?

Written By Juwita on Wednesday, January 5, 2011 | 6:03 AM

Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang (Wikipedia). Adat menjadi identitas suatu daerah (suku).

Bagaimana dengan adat Pakpak?

Sebagai satu adat yang murni tercipta dan berdiri sendiri dari masyarakat Pakpak, adat Pakpak harusnya menjadi identitas dan pedoman dalam berperilaku yang mencerminkan budaya Pakpak.

Namun masih kah adat Pakpak ini sanggup sebagai Identitas Masyarakat Pakpak?

Dari pantauan penulis dari fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Pakpak ternyata adat Pakpak telah mengalami pergeseran nilai. Ada bagian-bagian tertentu, di kelompok masyarakat Pakpak tertentu yang telah mengabaikan nilai-nilai adat ini. Misalnya dalam pelaksanaan pesta perkawinan dimana mempelai laki-laki dan perempuan adalah keduanya bermarga Pakpak, namun anehnya adat yang dilaksanakan dalam "mengadati" adalah adat suku lain.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkin banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya ketidak tahuan dan proses adaptasi adat lain yang dianggap menjadi adat yang terbaik, padahal baik buruknya suatu adat itu adalah identitas yang harusnya diterima dan tetap dilaksanakan. Parahnya tidak ada lagi sanksi tidak tertulis yang diberikan masyarakat Pakpak lainnya seperti yang seharusnya sebagaimana dikemukakan diatas. Hal ini mungkin telah dianggap biasa oleh sebagian warga Pakpak. Kalaupun ada sanksi yang diberikan saat melihat adanya "pelanggaran adat Pakpak" biasanya hanya sebatas kata-kata namun tidak ada tindakan nyata untuk meluruskan.

Mungkin sifat sikap seperti ini menjadi "budaya baru" orang Pakpak. Jadi kedepannya ada kemungkinan akibat pergeseran nilai-nilai ini secara perlahan pelan tapi pasti maka adat Pakpak yang murni akan mustahil untuk diperoleh.

Alangkah baiknya jika orang Pakpak segera menyadari akan hal ini di ikuti dengan adanya tindakan nyata untuk tetap memurnikan adat Pakpak. Orang-orang tua yang mengetahui adat Pakpak harus membentuk satu wadah pengajaran untuk memberikan semacam pelajaran dan pendidikan adat yang murni bagi generasi penerus Pakpak yang selalu dinamis.

Jika tidak maka Suku Pakpak kedepan hanya tersisa nama dan sebutan saja tanpa identitas adat Pakpak yang jelas.

Mari suku Pakpak, kita jadi diri sendiri dan tau diri. Bagaimanapun itu Pakpak, "Jang ta ngo asa jang ta", dan "Cedur milangit ndabuh mia Abe".
6:03 AM | 0 comments | Read More

Rumah Adat Pakpak "Menangis" di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta

Written By Juwita on Thursday, October 21, 2010 | 11:37 AM

Pembaca pernah ke Taman Mini Indonesia Indah..? Atau mau berkunjung kesana..? Sempatkan menikmati kekayaan budaya nusantara seperti melihat jejeran rumah adat nusantara dari sabang sampai merauke.

Hari Minggu, 17 Oktober 2010 saya berkesampatan ke TMII sekedar untuk wisata membuang kepenatan. Saya kagum atas penataan yang menarik dan unik, taman yang dari namanya katanya "mini" ternyata menyimpan "kemegahan" terutama dengan mempertontonkan budaya Indonesia.

Saat kunjungan pertama ini ke TMII, sebagai putra Sumatera Utara, tujuan utama saya adalah mengunjungi "rumah saya" di paviliun Sumatera Utara". Alangkah terkejut bercampur sedih saat tiba disana. Bagaimana tidak, dari berbagai paviliun rumah adat mewakili Sumatera Utara, yang paling "menyedihkan" adalah Rumah Adat Pakpak sebagai rumah adat nenek moyangku. 

Perasaan terkejut, sedih bercampur kasihan pada diri sendiri melihat keadaan rumah adat Pakpak ini seperti tak bertuan "miskin" inovasi. Sungguh kontras dengan rumah adat dari daerah lain yang ditata rapi dan menarik. Seperti dari Nias, Simalungun, Toba dan Melayu (Deli), mereka menunjukkan kreatifitas seperti penjaga stand yang siap sedia memberikan informasi budaya dan semua tentang daerah/sukunya, sekaligus menawarkan berbagai cendramata hasil kekayaan budaya daerahnya sebagai kenang-kenagan. Juga dengan mempertontonkan kesenian daerah berupa tari-tarian dan karya seni lainnya.

Namun untuk stand Pakpak, yang ada hanya bagunan rumah adat tak bertuan. Saat itu tidak ada penjaga stand. Rumah adat Pakpak kebanggaanku tutup terkunci rapat. Keadaannya memang tidak seperti yang saya bayangkan. Kolong rumah menjadi gudang penyimpanan tiang-tiang bekas diselimuti debu-debu. Halaman depan, belakang dan samping paviliun ditumbuhi rumput-rumput liar yang tumbuh subur.

Yang membuat kening berkerut adalah dari ukuran rumah adat Pakpak yang sangat kecil, jauh berbeda dengan rumah adat daerah lain disamping kiri kanan dan depannya. Sungguh kontras perbandingan ukurannya.

Dari segi bahan yang digunakan juga tidak sepenuhnya menunjukkan keaslian rumah adat Pakpak. Seperti tangga yang terbuat dari semen bukan kayu, atap bukan terbuat dari ijuk, dan hiasan ornamen Pakpak pada bangunan dilukis yang seharusnya di ukir.

Satu lagi yang menjadi pertanyaan bagi saya dari nama rumah adat ini. Dari keterangan yang tertulis dalam prasasti pendirian yang ditandatangani Bupati Dairi Bpk. Dr.M.Tumanggor tanggal 27 April 2002, tertulis "Rumah Adat Pakpak Dairi (Sapo Jojong)". Apa tidak seharusnya tertulis hanya "Rumah Adat Pakpak..?"
Hal ini tentu bisa menjadi bahan salah penafsiran dan bahan pertanyaan bagi pengunjung yang ingin tau tentang Suku Pakpak. Tentu akan membingungkan tentang "Suku Pakpak" dengan "Suku Pakpak Dairi".

Inilah penilaian saya sebagai pengunjung. Saya tidak tau apa latar belakang kejanggalan dan kekurangan-kekurangan tersebut. Apa memang seharusnya begitu?
Harapan kita, alangkah baiknya jika Rumah Adat ini diperhatikan, ditata dengan menarik, dirawat dan dijaga seperti yang dilakukan daerah/suku lain. Dan terpenting adalah rumah adat Pakpak dibuat sesuai dengan kondisi asli. Baik dari segi bahan, desain, dan sebagainya. Harus dilibatkan partua yang mengerti adat dan budaya Pakpak.

Penataan disemua lini perlu diperhatikan, ini penting karena rumah adat ini akan menjadi contoh mewakili Suku Pakpak, terutama dari sisi budayanya. Jika ini tetap dibiarkan, mau tidak mau saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), maka "Orang Pakpak Akan Malu Melihat Rumahnya Sendiri".

Siapa yang bertanggung jawab? Adalah kita semua suku Pakpak. Terutama Pemerintah sebagai perpanjangan tangan masyarakat Pakpak.

Njuah-Njuah.
11:37 AM | 0 comments | Read More