Cari Blog Ini

Kenakan Pakaian Adat Pakpak, Menteri Semangat

Written By Juwita on Saturday, March 19, 2011 | 6:30 AM

Pembukaan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-40 di Tapian Daya, Jl Gatot Subroto, Medan, Jumat (18/3/2011) malam berlangsung meriah. Acara ini dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad yang mewakili presiden Indonesia Susilo Bambang Yudoyono. Presiden tidak bisa hadir karena kesibukan tugas sehingga diwakilkan kepada Pak Fadel.

Pada acara pembukaan acara tahunan yang bergengsi di Sumut ini, yang menarik terutama bagi masyarakat Pakpak adalah pakaian yang dikenakan oleh Menteri. Pada saat itu baju kebesaran yang dipakai adalah Baju Adat Pakpak. Hal ini tentu membawa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pakpak, karena Pakaian Adat Pakpak dipercaya layak untuk dikenakan sebagai baju kehormatan untuk presiden RI dalam hal ini diwakili menterinya.

pakaian baju adat pakapak
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad memakai Pakaian Adat Pakpak ketika membuka pelaksanaan Pekan Raya Sumut (PRSU) ke- 40 di Medan (18/3) | Photo: Antara Sumut
Ketika akan menaiki pentas untuk memberikan kata sambutan, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad berjalan dengan perlahan sambil menggunakan tongkatnya, yaitu tongkat khas saat mengenakan baju adat Pakpak, sehingga menjadi perhatian pengunjung PRSU. Wagubsu, bupati dan wali kota se-Sumut serta seluruh pengunjug PRSU memberikan tepukan meriah atas sikap yang ditunjukkan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad itu.

“Saya semangat karena menggunakan pakaian kebesaran,” katanya memberikan komentar pemnbuka terhadap Baju Pakpak yang dikenakan sebelum menyampaikan kata sambutan.

Ketua Yayasan PRSU Panusunan Pasaribu mengatakan, pembukaan PRSU ini juga sebagai peringatan hari jadi Sumut yang ke-63 pada 15 April 2011. Wagubsu menyebutkan, pihaknya berbangga hati dengan perayaan PRSU ke-40 tersebut karena dibuka perwakilan pemerintah pusat yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad. “Bangga karena dalam enam tahun terakhir, PRSU tidak dibuka perwakilan pemerintah pusat,” katanya seperti yang diberitakan oleh Antara Sumut.

Disisi lain ternyata ribuan orang Pakpak merasa turut semangat menyikapi pakaian tradisional Pakpak yang dikenakan menteri tersebut, hal kecil tetapi sebagai simbol yang berarti, memberikan rasa percaya diri khususnya bagi masyarakat Pakpak pemilik pakaian adat tersebut.
6:30 AM | 0 comments | Read More

Raih Gelar Doktor Dengan Meneliti Identitas Etnik Orang Pakpak

Written By Juwita on Saturday, January 22, 2011 | 10:40 PM


YOGYAKARTA - Rekonstruksi identitas etnik dapat terjadi karena adanya pendefinisian etnisitas, adaptasi atau tradisi, di samping adanya peluang elit yang memegang kekuasaan dan memanipulasi sentimen etnisitas. Dari keseluruhan proses reka ulang identitas etnik ini dihasilkan transformasi orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya.

ugm.ac.id
Entitas politik ini memproduksi simbol teritorial dan simbol politis, yakni Kabupaten Pakpak Barat. Namun, sebagai akibat dari proses historis yang berbeda-beda dalam subkelompok etnik ini, terutama terbelahnya orang Pakpak menjadi lima suku dengan orientasi keagamaan yang berbeda, membuat etnik Pakpak menghadapi persoalan dalam membentuk sebuah entitas kultural yang terpancang berdiri tegak sebagai satu kesatuan di tanah adatnya. Hal ini menjadi tantangan besar dalam mengonsolidasi dan mengkristalkan konstruksi identitas etnik Pakpak pada masa mendatang. “Dari seluruh proses reka ulang identitas etnik ini akhirnya menghasilkan orang Pakpak menuju entitas politik yang sadar akan kelompok etniknya,” terang Drs. Budi Agustono, M.Hum. dalam ujian doktor di Ruang Multimedia Gedung R.M. Margono Djojohadikusumo, Fakultas Ilmu Budaya UGM, Senin (27/12).

Dalam ujian tersebut, Agus mempertahankan disertasi yang berjudul Rekonstruksi Identitas Etnik: Sejarah Sosial Politik Orang Pakpak di Sumatera Utara 1958-2003. Hadir sebagai penguji dalam kesempatan itu, Dr. Ida Rochani Adi, S.U., Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. (promotor), Prof. Dr. Djoko Suryo, Prof. Dr. Djoko Soekiman, Dr. Sri Margana, M.Phil., Prof. Dr. Purwo Santoso, Prof. Dr. R.M. Soedarsono, dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Dalam ujian tersebut, Budi berhasil mempertahankan penelitiannya dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Di hadapan tim penguji, Budi mengatakan tujuan penelitian yang dilakukannya adalah untuk menjelaskan politik identitas dan perebutan ruang politik dalam pembentukan identitas kultural kelompok etnik di tengah perubahan rezim sejak Indonesia merdeka. Kajian etnisitas dan formasi identitas sebagian besar banyak dikerjakan oleh antropolog dan sosiolog, sedangkan sejarawan masih sedikit yang memberi perhatian terhadap kajian etnisitas ini. “Ada kesan kajian dalam historiografi Indonesia mengenai etnisitas seperti terabaikan,” imbuh staf pengajar Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara, ini.

Teori penelitian ini adalah bahwa relasi antara etnisitas dan identitas jalin berkelindan. Etnisitas dapat berubah-ubah, tergantung dengan siapa ia berinteraksi. Identitas etnik merupakan fenomena yang adaptif dan dalam merespon situasi yang berubah, batasan-batasan kolektifitas dapat meluas, bahkan orang atau sebagian orang dapat keluar dan masuk dalam lebih dari satu komunitas. “Dengan demikian, etnisitas merupakan hal yang dinamis, tidak pasti, not a fixed, dan berubah dalam hubungan politik dan sosial. Penelitian ini sekaligus memakai pendekatan instrumentalis dalam menjelaskan rekonstruksi identitas etnik Pakpak,” kata pria kelahiran Deli Serdang, 5 Agustus 1960 ini.

Beberapa hasil penelitian yang diperoleh, antara lain, pertama, kedatangan Belanda selain menggabungkan Tanah Pakpak dalam orbit kekuasaan kolonial, juga memarginalisasi elit tradisional Pakpak. Kedua, migrasi Batak Toba ke Tanah Pakpak yang dimulai pada awal abad kedua puluh telah melemahkan identitas kultural penduduk asli ini. Setelah itu, muncul pelabelan-pelabelan etnik yang merendahkan orang Pakpak.

Ketiga, setelah menguasai permukiman dan mayoritas penduduk di wilayah ini, terutama di Sidikalang, orang Batak Toba mulai mengganti nama-nama tempat yang menyimbolkan identitas kultural Pakpak dengan bahasa Batak Toba, misalnya sungai yang sebelumnya bernama aek sibellen (Pakpak) diubah menjadi lae simbolon (Batak Toba), Desa Sikaliki (Pakpak) menjadi Palipi, dll.

Keempat, sejak kristenisasi masuk ke Tanah Pakpak, orang Pakpak bergereja di Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Bersamaan dengan semakin menguatnya identitas etnik, orang Pakpak melakukan gerakan pemisahan gereja dari HKBP. Setelah melakukan serangkaian konflik antara orang Pakpak dengan HKBP, akhirnya pada 1991 berdiri gereja etnik Pakpak bernama Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). 

Source : www.ugm.ac.id - Rilis Universitas Gajah Mada
Raih Doktor, Teliti Identitas Etnik Orang Pakpak 
(Humas UGM/Satria AN)
10:40 PM | 0 comments | Read More

Masihkah Adat Pakpak = Identitas Pakpak?

Written By Juwita on Wednesday, January 5, 2011 | 6:03 AM

Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang (Wikipedia). Adat menjadi identitas suatu daerah (suku).

Bagaimana dengan adat Pakpak?

Sebagai satu adat yang murni tercipta dan berdiri sendiri dari masyarakat Pakpak, adat Pakpak harusnya menjadi identitas dan pedoman dalam berperilaku yang mencerminkan budaya Pakpak.

Namun masih kah adat Pakpak ini sanggup sebagai Identitas Masyarakat Pakpak?

Dari pantauan penulis dari fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Pakpak ternyata adat Pakpak telah mengalami pergeseran nilai. Ada bagian-bagian tertentu, di kelompok masyarakat Pakpak tertentu yang telah mengabaikan nilai-nilai adat ini. Misalnya dalam pelaksanaan pesta perkawinan dimana mempelai laki-laki dan perempuan adalah keduanya bermarga Pakpak, namun anehnya adat yang dilaksanakan dalam "mengadati" adalah adat suku lain.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkin banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya ketidak tahuan dan proses adaptasi adat lain yang dianggap menjadi adat yang terbaik, padahal baik buruknya suatu adat itu adalah identitas yang harusnya diterima dan tetap dilaksanakan. Parahnya tidak ada lagi sanksi tidak tertulis yang diberikan masyarakat Pakpak lainnya seperti yang seharusnya sebagaimana dikemukakan diatas. Hal ini mungkin telah dianggap biasa oleh sebagian warga Pakpak. Kalaupun ada sanksi yang diberikan saat melihat adanya "pelanggaran adat Pakpak" biasanya hanya sebatas kata-kata namun tidak ada tindakan nyata untuk meluruskan.

Mungkin sifat sikap seperti ini menjadi "budaya baru" orang Pakpak. Jadi kedepannya ada kemungkinan akibat pergeseran nilai-nilai ini secara perlahan pelan tapi pasti maka adat Pakpak yang murni akan mustahil untuk diperoleh.

Alangkah baiknya jika orang Pakpak segera menyadari akan hal ini di ikuti dengan adanya tindakan nyata untuk tetap memurnikan adat Pakpak. Orang-orang tua yang mengetahui adat Pakpak harus membentuk satu wadah pengajaran untuk memberikan semacam pelajaran dan pendidikan adat yang murni bagi generasi penerus Pakpak yang selalu dinamis.

Jika tidak maka Suku Pakpak kedepan hanya tersisa nama dan sebutan saja tanpa identitas adat Pakpak yang jelas.

Mari suku Pakpak, kita jadi diri sendiri dan tau diri. Bagaimanapun itu Pakpak, "Jang ta ngo asa jang ta", dan "Cedur milangit ndabuh mia Abe".
6:03 AM | 0 comments | Read More

Rumah Adat Pakpak "Menangis" di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta

Written By Juwita on Thursday, October 21, 2010 | 11:37 AM

Pembaca pernah ke Taman Mini Indonesia Indah..? Atau mau berkunjung kesana..? Sempatkan menikmati kekayaan budaya nusantara seperti melihat jejeran rumah adat nusantara dari sabang sampai merauke.

Hari Minggu, 17 Oktober 2010 saya berkesampatan ke TMII sekedar untuk wisata membuang kepenatan. Saya kagum atas penataan yang menarik dan unik, taman yang dari namanya katanya "mini" ternyata menyimpan "kemegahan" terutama dengan mempertontonkan budaya Indonesia.

Saat kunjungan pertama ini ke TMII, sebagai putra Sumatera Utara, tujuan utama saya adalah mengunjungi "rumah saya" di paviliun Sumatera Utara". Alangkah terkejut bercampur sedih saat tiba disana. Bagaimana tidak, dari berbagai paviliun rumah adat mewakili Sumatera Utara, yang paling "menyedihkan" adalah Rumah Adat Pakpak sebagai rumah adat nenek moyangku. 

Perasaan terkejut, sedih bercampur kasihan pada diri sendiri melihat keadaan rumah adat Pakpak ini seperti tak bertuan "miskin" inovasi. Sungguh kontras dengan rumah adat dari daerah lain yang ditata rapi dan menarik. Seperti dari Nias, Simalungun, Toba dan Melayu (Deli), mereka menunjukkan kreatifitas seperti penjaga stand yang siap sedia memberikan informasi budaya dan semua tentang daerah/sukunya, sekaligus menawarkan berbagai cendramata hasil kekayaan budaya daerahnya sebagai kenang-kenagan. Juga dengan mempertontonkan kesenian daerah berupa tari-tarian dan karya seni lainnya.

Namun untuk stand Pakpak, yang ada hanya bagunan rumah adat tak bertuan. Saat itu tidak ada penjaga stand. Rumah adat Pakpak kebanggaanku tutup terkunci rapat. Keadaannya memang tidak seperti yang saya bayangkan. Kolong rumah menjadi gudang penyimpanan tiang-tiang bekas diselimuti debu-debu. Halaman depan, belakang dan samping paviliun ditumbuhi rumput-rumput liar yang tumbuh subur.

Yang membuat kening berkerut adalah dari ukuran rumah adat Pakpak yang sangat kecil, jauh berbeda dengan rumah adat daerah lain disamping kiri kanan dan depannya. Sungguh kontras perbandingan ukurannya.

Dari segi bahan yang digunakan juga tidak sepenuhnya menunjukkan keaslian rumah adat Pakpak. Seperti tangga yang terbuat dari semen bukan kayu, atap bukan terbuat dari ijuk, dan hiasan ornamen Pakpak pada bangunan dilukis yang seharusnya di ukir.

Satu lagi yang menjadi pertanyaan bagi saya dari nama rumah adat ini. Dari keterangan yang tertulis dalam prasasti pendirian yang ditandatangani Bupati Dairi Bpk. Dr.M.Tumanggor tanggal 27 April 2002, tertulis "Rumah Adat Pakpak Dairi (Sapo Jojong)". Apa tidak seharusnya tertulis hanya "Rumah Adat Pakpak..?"
Hal ini tentu bisa menjadi bahan salah penafsiran dan bahan pertanyaan bagi pengunjung yang ingin tau tentang Suku Pakpak. Tentu akan membingungkan tentang "Suku Pakpak" dengan "Suku Pakpak Dairi".

Inilah penilaian saya sebagai pengunjung. Saya tidak tau apa latar belakang kejanggalan dan kekurangan-kekurangan tersebut. Apa memang seharusnya begitu?
Harapan kita, alangkah baiknya jika Rumah Adat ini diperhatikan, ditata dengan menarik, dirawat dan dijaga seperti yang dilakukan daerah/suku lain. Dan terpenting adalah rumah adat Pakpak dibuat sesuai dengan kondisi asli. Baik dari segi bahan, desain, dan sebagainya. Harus dilibatkan partua yang mengerti adat dan budaya Pakpak.

Penataan disemua lini perlu diperhatikan, ini penting karena rumah adat ini akan menjadi contoh mewakili Suku Pakpak, terutama dari sisi budayanya. Jika ini tetap dibiarkan, mau tidak mau saat berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), maka "Orang Pakpak Akan Malu Melihat Rumahnya Sendiri".

Siapa yang bertanggung jawab? Adalah kita semua suku Pakpak. Terutama Pemerintah sebagai perpanjangan tangan masyarakat Pakpak.

Njuah-Njuah.
11:37 AM | 0 comments | Read More

Kirim Tulisan Anda

Written By Juwita on Friday, July 30, 2010 | 7:31 AM

Pakpak Bharat Blog memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memuat suatu tulisan, karya ilmiah, karangan fiksi, opini, cerita, lirik lagu/syair/puisi, nasehat, ide dan gagasan atau apa saja yang layak dimuat untuk dibaca khalayak ramai pada halaman ini.

Tulisan anda akan segera dimuat pada halaman Pakpak Bharat Blog dengan persyaratan :
  1. Topik tulisan berhubungan dengan Pakpak Bharat atau Budaya Suku Pakpak secara umum atau topik lain yang bisa dikaitkan secara langsung atau tidak langsung dengan Pakpak;
  2. Tulisan asli karya sendiri, bukan hasil plagiat dari karya orang lain/sumber lain;
  3. Tulisan tidak mengandung SARA, pornografi, melawan hukum, provokasi atau bertentangan dengan etika;
Silahkan mengirimkan karya anda melalui email ke alamat :

admin@pakpakbharatblog.co.cc

Sertakan juga identitas lengkap anda sebagai kontak dengan Admin dengan menyebutkan :
Nama Jelas, Alamat dan Nomor Telephone/Handphone



Terimakasih, Liasate, Njuah-Njuah !
7:31 AM | 0 comments | Read More