Cari Blog Ini

Semangat Kebangsaan dan Patriotisme Suku Pakpak

Written By Juwita on Sunday, April 11, 2010 | 6:38 PM

Kalau kita telusuri lebih jauh maka etnis Pakpak menunjukkan tebalnya semangat kebangsaan dan kepatriotan. Etnis ini mempunyai sifat suka menerima hal-hal yang baru tanpa merusak nilai-nilai yang ada dan cepat mengantisipasi nilai-nilai luhur.

Di samping itu orang Pakpak mempunyai sifat terlalu cepat menyesuaikan diri, sehingga banyak yang terjadi sampai menukar marganya. Menguasai bahasa daerah lainnya sangat cepat sehingga rata-rata bisa menguasai bahasa-bahasa daerah di Indonesia ini, sehingga bahasanya sendiri ditinggalkan. Hal ini dipengaruhi oleh rasa nasionalisme yang tinggi dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi hal ini banyak dimanfaatkan oleh kelompok lain, sehingga padamnya jati diri orang Pakpak. 

Catatan-catatan buku-buku orientalis Barat juga menyebut orang Pakpak sebagai pemakan orang, namun pada hakekatnya yang dimakan adalah musuh-musuh dalam peperangan (mergraha) jadi bukan kaannibal seperti yang dituduhkan orang Barat tersebut.

Sifat kepatriotannya pun tetap terlihat pada waktu Perang Batak melawan Belanda. Daerah Pakpaklah tempat titik darah penghabisan perjuangan perlawanan Sisingamangaraja XII terhadap Belanda. Banyak panglima orang Pakpak, untuk melindunginya dalam melawan Belanda. Bahwa setelah Sisingamangaraja XII meninggal dunia, perjuangan melawan Belanda terus berlanjut dengan membentuk satuan-satuan gerilya yang disebut “Slimin” sampai tercapainya Kemerdekaan Republik Indonesia.


6:38 PM | 0 comments | Read More

Keberadaan Mejan di Kabupaten Pakpak Bharat

Patung-patung dengan berbagai ukuran itu berdiri di atas sebidang tanah. Kerak-kerak lumut yang melapisi benda-benda itu, menandakan umurnya yang telah mencapai ratusan tahun. Mejan adalah patung-patung yang menyimpan nilai sejarah yang tiada duanya. Sementara bagi orang-orang Pakpak, mejan merupakan kebanggaan dan kemasyuran Suku Pakpak yang mengandung unsur mistik dan budaya. Boleh percaya boleh tidak, di masa lalu mejan dapat bersuara apabila suatu kampung akan mengalami peristiwa.

Mejan merupakan lambang kebesaran suku/marga Pakpak ini timbul tatkala dalam rangkaian perjalanan Inside Sumatera di Kabupaten Pakpak Bharat, kami mengetahui bahwa patung bersejarah yang disebut dengan mejan itu semakin lama semakin berkurang. Kini, di delapan kecamatan di Kabupaten Pakpak Bharat, diperkirakan hanya tersisa ratusan saja. Padahal, sebelumnya, mejan terdapat di setiap kampung pada masing-masing keluarga besar marga tertentu.


6:36 PM | 0 comments | Read More

Kumpulan Umpama Pakpak (Peribahasa/Ungkapan Pakpak)

Written By Juwita on Friday, April 9, 2010 | 2:58 AM

Inti dari umpama Pakpak adalah memberikan nasehat kritik dan saran melalui peribahasa (analogi) yang singkat.dan mudah dipahami.

Silahkan tambahkan pada komentar dibawah agar kami bisa menambah Koleksi Umpama (Peribahasa/ Ungkapan) Pakpak ini dengan harapan Umpama Pakpak semakin lengkap dan tidak akan hilang tertelan jaman. Karena salah satu kekayaan Budaya Pakpak adalah Umpama Pakpak, yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut Umpama Pakpak yang telah terkumpul :
  • UNGKAPAN UMUM :

1. ULANG BAGE URUPEN SITANGIS
Jangan Bagai membantu orang yang sedang menangis.
 Seseorang yang menangis pada saat kemalangan biasanya membuat orang lain juga ikut menangis. Setelah orang menangis yang pertama menjadi diam lalu membiarkan orang lain tersebut terus menangis. Ungkapan ini ditujukan kepada orang yang selalu memerintah orang lain tapi dia sendiri tidak ikut mengerjakan sesuatu, yang seharusnya dikerjakan bersama.

2. MULA ENGGO MERIDI TAPTAP MO
Bila mandi haruslah basah 
Ungkapan ini mengatakan, apabila mengerjakan sesuatu haruslah diselesaikan sampai selesai atau tuntas.

3. NDATES PENANGKIHEN, NDATES MA MULA NDABUH
Tinggi panjatan, tinggi pula jika jatuh Jika kita memanjat lebih tinggi, semakin tinggi juga kita akan jatuh. Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka semakin tinggi pula tanggung jawab, tantangan dan resiko yang harus dihadapi.

4. ANTAN SULANGAT MERIO
Sulangat adalah penangkapan ikan khas pakpak yang terbuat dari benang, kawat dan kasa. Ungkapan ini mengatakan agar dalam melakukan segala sesuatu harus diukur dari kemampuan kita atau kita harus mengenal diri kita yang sebenarnya dalam mengerjakan sesuatu atau dalam memutuskan sesuatu yang melibatkan orang banyak

5. TARIK-TARIK MENGRAOK MENJEMPUT PODA
Hendak meraup banyak, mendapat sedikit pun tidak, kiasan ini ditujukan kepada orang tamak, dimana ia mengharapkan hasil banyak, kedudukan yang tinggi, keuntungan, akhirnya tidak mendapatkan sedikitpun hasil.

6. MENGITE BABAH GOLOK I TERUHNA RANJO
Parang dan ranjau adalah tajam sehingga setiap orang takut memijaknya. Ungkapan ini dikatakan kepada orang yang berbuat kesalahan besar yang sulit untuk dimaafkan maupun dibela.

7. IPALKOH SANGKALEN MENGENA PENGGEL
Dipukul talenan telinga terasa Talenan alat atau landasan untuk memotong, mencincang, mengiris sesuatu. Ungkapan ini meminta kita untuk selalu menuruti, was-was dan tanggap terhadap nasehat yang berguna yang diberikan oleh orang yang berpengalaman seperti : orang tua, abang kakak atau pimpinan.

8. LBBE IDEGER ASA NDABUH
Setelah digoyah baru jatuh Dikatakan kepada oaring yang sulit untuk mengerti tentang sesuatu atau pura-pura tidak tahu dan bisa juga dikatakan kepada seseorang yang sangat kikir. Setelah diberi isyarat tertentu atau dijelaskan secara terus terang baru mengerti permasalahan.

9. BAGE PEMAN TENGNGER
Seperti tungguan tenger Tengger adalah sejenis buah kayu yang walaupun telah membusuk tidak jatuh. Ungkapan yang menyatakan tidak adanya kepastian terhadap sesuatu keputusan

10. TERMELA-MELAKAN CINING I ABE
Untuk apa malu bekas luka di wajah Ungkapan ini menyatakan kita harus memberitahu yang sebenarnya. Kiasan ini mengartikan adanya kejujuran atau keterusterangan seseorang terhadap siapa dirinya dan apa yang dilakukannya.

11. MENENCENG BAGE BASI
Memaksa masuk seperti besi Dikatakan kepada orang yang selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain walaupun orang lain tersebut tidak menyukainya.

12. DUA KALI MANGAN MAK DUA KALI MERBORIH
Dua kali makan dua kali cuci tangan Ungkapan ini seberapa kali kita bebrbuat sesuatu, sebegitu juga kita mempertanggung jawabkannya atau menyelesaikannya. Makna lain apabila kita memulai sesuatu tindakan maka kita pula yang harus menyelesaikannya.

  • UNGKAPAN PAKPAK YANG BERKAITAN DENGAN FLORA:

1. ARI-ARIAN BAGI MANGAN I OPIH
Sehari-hari seperti makan di pelepah pinang Kebiasaan seperti layaknya makan diatas pelapah pinang. Pribahasa ini diperuntukkan bagi seseorang yang mau enak sendiri artinya seseorang yang sangat gemar meminta bantuan dari teman atau orang lain tanpa adanya melakukan usaha demi peingkatan diri

2. BAGI GOLINGEN TABU
Seperti gulingan labu Labu karena bulat mudah untuk menggulingkannya. Ungkapan ini dipakai untuk menyebutkan seseorang yang tidak punya pendirian atau tidak percaya diri sehingga nudah untuk diperdayakan orang lain

3. BAGE MENAKA BULUH SIKEDEKNA ITINGKAH
Seperti membelah bambu yang kecil dipijak. Bambu dari pangkal ke pucuk biasanya mempunyai ketebalan yang berbeda, untuk menjaga keseimbangan maka membelah diwali dari pucuk. Ungkapan ini digunakan untuk memperingatkan orang kaya kuat atau orang tua atau tokoh-tokoh adat agar memberi nasehat atau keputusan secara adil bagi anak atau orang yang lebih lemah kedudukannya.

4. BAGI KETUK TANDANG
Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang terlalu banyak bicara tetapi tidak banyak bertindak. Misalnya seseorang yang sering menasehati orang lain tetapi ia sendiri tidak berbuat seperti isi nasehatnya tersebut. Atau orang yang selalu menggurui orang lain.

5. BAGE TONGKOH IARNGO
Seperti tunggul kayu di tengah semak arngo. Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang kurang dihargai ditengah-tengah masyarakat pada hal cukup banyak jasa yang diberikannya.

6. BAGI MENANGKIH KEPPENG
Keppeng adalah sejenis pohon hutan yang rasa buahnya asam. Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang selalu berusaha walaupun kurang berkemampuan dan dia tidak pernah putus asa apa dan bagaimanapun hasil yang diperolehnya.

7. ULANG BEGE TAKUR-TAKUR
Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang sangat enggan membantu orang lain atau orang yang sangat egoistis. Ungkapan ini biasanya diucapkan pada saat-saat adanya pertemuan desa atau nasehat orang tua terhadap anak-anak agar saling membantu satu sama lainnya.

8. BAGE KIROROH BULUNG LATENG
Ungkapan ini diperuntukkan sebagai nasehat terutama kepada orang muda yang belum berpengalaman supaya tidak sembrono dalam berprilaku atau bertindak. Untuk bertindak perlu dipikirkan terlebih dahulu sebelum melakukannya. Apabila bertindak dengan tidak berhati-hati maka akibatnyaakan fatal dan harus ditanggung sendiri.

9. BAGE NDERU PERSEGE
Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang seolah-olah baik atau seolah-olah ringan tangan membantu orang lain, tetapi kenyataannya sangat berat tangan atau enggan membantu sesamanya.

10. BAGE KAYU MALEDANG
Ungkapan ini kepada seorang gadis yang berparas cantik, tinggi semampai dan anggun.

11. ULANG BAGE MENCEKEP REBA-REBA
Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang tidak pernah serius melakukan sesuatu pekerjaan. Akibatnya dia sendiri tidak mendapat hasil malah mungkin akan celaka.

12. BAGE BATANG-BATANG PETINDIH TAN DATES SI TERIDAHNA
ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang suka menonjolkan diri karena kepintarannya berbicara tanpa mengingat adanya orang lain yang lebih berhak. Atau seseorang yang suka mengambil hak orang lain baik untuk berbicara atau mendapatkan sesuatu.

  • UNGKAPAN PAKPAK YANG BERHUBUNGAN DENGAN FAUNA:

1. GAJAH MERUBAT PELANDUK TERKAPIT
Gajah beradu, kancil yang terjepit. Orang besar berkelahi anak kecil ikut menjadi sasaran atau para pimpinan yang berselisih mengakibatkan kesulitan pada rakyat jelata.

2. ULANG BAGI BIAHAT MERDOKAR
Jangan seperti harimau beranak. Harimau beranak suka memangsa, lebih buas, tidak boleh didekati oleh binatang lain. Ungkapan ini dikatakan pada orang yang selalu marah, muka merah, kejam, tidak pandang bulu dan brutal, sifat yang tidak perlu untuk ditiru oleh manusia.

3. ULANG BAGE BERREK KELEGON
Jangan seperti beludru di musim kemarau. Beludru pada musim kemarau biasanya berkumpul pada sisa air di selokan. Ungkapan ini dikatakan kepada seseorang yang tidak mandiri dan tidak percaya diri sehingga selalu harus dibantu orang lain. Juga dikatakan pada orang yang selalu berkumpul tanpa melakukan usaha-usaha untuk peningkatan diri.

4. ULANG BAGE PERDALAN BIANG TONGGAL
Jangan seperti perjalanan anjing jantan. Anjing jantang biasanya kalau berjalan selalu singgah, sehingga lama sampai ketempat tujuan karena selalu memperhatikan anjing betina. Ungkapan ini ditujukan pada anak laki-laki yang menjelang remaja (mulai masa pacaran). Para Pemuda jika pergi kesuatu tempat hendaknya jangan terlalu sering singgah, tetapi harus sampai ketujuan terlebih dahulu baru kemudian direncanakan perjalanan berikutnya.

5. ULANG BAGE RENGKABER
Jangan seperti kalelawar.
Ungkapan ini dikatakan kepada seorang pemuda yang suka keluyuran pada malam hari dan pada waktu siang tidak kemana-mana atau tidak bekerja tetapi tidur atau dirumah saja.

6. MBUE KUNU UKUM BENBEN, SAD APE TAPI RENGGICING
Ungkapan ini dikatakan pada kemampuan manusia yang tidak diukur dari jumlah yang banyak tetapi terutama diukur oleh kepandaian seseorang. Jadi walupun sedikit tetapi mempunyai peran yang cukup berarti bagi masyarakat sebagai suatu hal yang positif.

7. ULANG BAGE OLONG NAGKA
Jangan seperti ulat nangka.
Ulat nangka biasanya berjalan lompat-lompat. Dikatakan kepada orang yang selalu pindah-pindah tempat tinggal dari tempat satu ketempat yang lain atau tidak betah menetap pada suatu tempat. Dapat juga diumpamakan kepada seorang gadis yang centil yang selalu minta diperhatikan.

8. ULANG BAGE MENOLONG BIANG TERKAPIT
Jangan seperti menolong anjing yang sedang terjepit. Ungkapan ini dikatakan misalnya dalam suatu perkara. Apabila ada orang ketiga yang campur tangan untuk menyelesaikan sengketa sering dijadikan sasaran kemarahan pihak yang bertikai. Maksud hati berbuat baik, malah sebaliknya mendapat pukulan, makian maupun hinaan.

9. MULAK NOLA KAMBING I BOANG NAI 
Ungkapan ini menyatakan pemberian tidak boleh ditolak atau rezeki jangan disangkal tetapi harus disyukuri atau dinikmati.

10. I KERUT MENCI EKUR KOCING
Orang besar atau kedudukan tinggi tidaklah kekal adanya, sebaliknya juga bisa terjadi pada orang kecil atau berkedudukan rendah. Malah yang semula kedudukannya rendah akan mengantikan atau mengalahkan yang sebesar atau kedudukan tinggi.

11. NARUH ODA MERNENEH TAPI PEKASTUK
Ungkapan ini dikatakan kepada setiap orang bahwa ternyata dalam kehidupan nyata pasti setiap orang pernah bertengkar atau berselisih pendapat antar sesama dimana saja.

12. BAGE TORANG PEROTOR-OTOR
Seperti musang berjalan beriringan. Ungkapan ini dikatakan kepada suami istri yang apabila bepergian selalu bersama-sama dan setia sekata.
2:58 AM | 0 comments | Read More

Objek Wisata Air Terjun Lae Simbilulu Tinada Kabupaten Pakpak Bharat

Written By Juwita on Wednesday, February 10, 2010 | 10:45 PM

Satu lagi objek wisata lokal di kabupaten Pakpak Bharat yaitu Air Terjun "Sampuren Simbilulu". Letaknya di Kecamatan Tinada Desa Prongil Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara Indonesia.

Jalan menuju lokasi ini masih dalam tahap pembangunan, kedepan objek wisata ini pasti bisa diandalkan karena potensi keindahannya apalagi ditata sedemiakian rupa.
Maju terus Pakpak Bharat…!!

 















  Video Air Terjun Lae Simbilulu Pakpak Bharat :

10:45 PM | 0 comments | Read More

Legenda Objek Wisata Eluh Berru Tinambunen Pakpak Bharat

Ada cerita yang melegenda di masyarakat pakpak, yaitu Cerita Bru Tinambunen dari Pakpak Suak Kelasen. Cerita ini melahirkan legenda berupa mata air yang tidak pernah kering walau musim kemarau berkepanjangan. Diyakini ini adalah bekas air mata Bru Tinambunen saat menagis.

Konon ceritanya mata air tersebut adalah berasal dari seorang wanita Berru Tinambunan yang menangis karena tidak ingin dinikahkan dan melarikan diri ke tempat tersebut. Tangisan yang tidak berhenti tersebut lama-kelamaan menjadi mata air yang diberi nama Eluh Berru Tinambunan (Eluh = Air mata). Bagi siapa yang berkunjung ke sana biasanya akan mencuci muka pada mata air itu sebagai bagian dari penghargaan akan adat-istiadat di lokasi tersebut.

Eluh Berru Tinambunen
Eluh Berru Tinambunen Terletak di kaki "Delleng Simpon" Desa Rumerah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu. Lokasi eluh bru Tinambunan juga merupakan tapal batas antara Kabupaten Pakpak Bharat dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Eluh Berru Tinambunan merupakan salah satu prioritas pembangunan objek wisata di Kabupaten Pakpak Bharat yang saat ini mulai diperhatikan oleh pemerintah. Jalan ke kawasan ini adalah jalan propinsi dan telah dibangun dan bisa dilewati kendaraan roda dua atau roda empat. Bagi anda yang tertarik dan penasaran, silahkan berkunjung, masyarakat yang ramah siap mengantar anda ketempat tujuan.
10:14 PM | 0 comments | Read More